Lem Prangko

psikologi pengumpulan massa dan kenapa dulu orang harus menjilatnya

Lem Prangko
I

Pernahkah kita menyadari betapa anehnya kebiasaan masa lalu kita? Dulu, untuk mengirimkan pesan kepada seseorang di seberang pulau, kita harus menjilat sepotong kertas kecil. Ya, kita menempelkan lidah kita ke punggung kertas bergerigi, merasakan rasa tawar-manis yang sedikit sintetis, lalu menekannya ke ujung amplop. Jutaan orang melakukan ini setiap hari, tanpa banyak bertanya. Mari kita pikirkan hal ini sejenak. Apa sebenarnya yang sedang kita jilat saat itu? Dan lebih jauh lagi, mengapa sepotong kertas berlapis cairan kering ini bisa memicu salah satu obsesi psikologis terbesar dalam sejarah umat manusia?

II

Sebelum tahun 1840, sistem pos dunia adalah sebuah kekacauan yang nyata. Pada masa itu, penerima suratlah yang harus membayar ongkos kirim. Bayangkan teman-teman menerima surat tagihan, lalu harus membayar pak pos untuk membacanya. Tentu saja, banyak orang menolak menerima surat, dan kantor pos rugi besar. Hingga akhirnya, seorang pendidik asal Inggris bernama Rowland Hill mengusulkan ide brilian. Ongkos kirim harus dibayar di muka menggunakan label kecil sebagai bukti. Lahirlah Penny Black, prangko berperekat pertama di dunia.

Tapi, bagaimana cara menempelkannya tanpa merepotkan warga? Di sinilah hard science bekerja. Para pembuat prangko awal menggunakan bahan yang disebut dextrin, sejenis karbohidrat yang diekstrak dari pati kentang atau jagung. Pada perkembangannya modern, mereka beralih ke polyvinyl alcohol (PVA). Bahan-bahan ini adalah polimer sintesis yang bersifat water-soluble atau larut dalam air. Dalam keadaan kering, molekul-molekul lem ini diam, mengunci diri, dan sama sekali tidak lengket. Namun, begitu terkena air, rantai polimernya merenggang dan berubah menjadi perekat yang sangat kuat. Mengingat pada zaman dulu kita tidak membawa spons basah ke mana-mana, sumber air paling praktis, gratis, dan instan adalah air liur kita sendiri.

III

Jadi, dari sudut pandang kimiawi, misteri jilatan itu sudah terpecahkan. Air liur kita bertindak sebagai pelarut untuk membangunkan rantai polimer yang tertidur. Namun, ada satu misteri yang jauh lebih besar. Prangko diciptakan murni sebagai alat pembayaran. Ia adalah benda fungsional yang tugasnya selesai begitu surat sampai. Tapi, tak lama setelah diciptakan, orang-orang mulai melakukan hal yang tidak masuk akal. Mereka tidak menempelkannya. Mereka menyimpannya. Mereka memburunya. Bahkan, beberapa orang rela merogoh kocek miliaran rupiah hanya untuk satu keping prangko langka yang salah cetak.

Mengapa kita sebagai manusia tiba-tiba terobsesi menimbun benda yang sebenarnya ditujukan sebagai tanda terima? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak kita saat kita memandangi deretan prangko yang tersusun rapi di dalam buku album? Apakah ini sekadar hobi yang tidak berbahaya, atau ada sesuatu yang lebih primitif yang diam-diam mengendalikan kita?

IV

Jawabannya ternyata tersimpan jauh di dalam arsitektur purba otak kita. Ilmu psikologi evolusioner melihat pengumpulan massa (mass collecting) sebagai warisan insting kelangsungan hidup. Selama ratusan ribu tahun, nenek moyang kita bertahan hidup dengan menjadi hunter-gatherer atau pemburu-pengumpul. Insting untuk mencari dan mengumpulkan beri, kacang-kacangan, dan alat bantu adalah kunci agar mereka tidak mati kelaparan. Ketika dunia menjadi modern dan kita tidak perlu lagi berburu makanan di hutan, insting neurologis itu tidak hilang. Ia hanya mencari target yang baru. Dan prangko, dengan ukurannya yang kecil dan ragamnya yang tak terbatas, menjadi mangsa yang sempurna.

Selain itu, ada fenomena psikologi kognitif yang sangat kuat bernama Zeigarnik Effect. Efek ini menjelaskan bahwa otak manusia sangat membenci ketidaklengkapan. Otak kita lebih mudah mengingat tugas yang belum selesai daripada yang sudah selesai. Ketika kita memiliki seri prangko bergambar satwa yang kurang satu, otak kita akan terus-menerus "gatal" karena merasa ada pola yang terputus. Menemukan prangko terakhir itu dan melengkapi koleksi akan melepaskan tembakan dopamine yang luar biasa memuaskan di otak.

Kita juga terjebak dalam Endowment Effect, sebuah bias kognitif di mana kita menilai sesuatu lebih berharga hanya karena benda itu milik kita. Di tengah dunia nyata yang kacau, penuh tekanan, dan sulit dikendalikan, menyusun prangko secara rapi di dalam album memberikan kita ilusi kontrol. Lewat prangko, kita menjadi penguasa absolut atas sebuah alam semesta kecil berbentuk persegi panjang.

V

Pada akhirnya, selembar prangko bukanlah sekadar kertas berlapis dextrin yang kita basahi dengan air liur. Ia adalah cerminan dari betapa kompleks dan rapuhnya kita sebagai manusia. Kita menciptakan teknologi polimer yang brilian agar bisa saling bertukar kabar. Lalu, secara tidak sadar, kita membajak teknologi fungsional tersebut untuk memuaskan insting purba kita yang haus akan kelengkapan, keteraturan, dan rasa aman.

Saat ini, kita mungkin sudah jarang menjilat prangko. Pabrik sudah menggantinya dengan stiker self-adhesive yang praktis, dan kebiasaan berkirim surat telah digantikan oleh email yang dingin. Kita kehilangan sensasi rasa tawar-manis di ujung lidah itu. Namun, memahami sejarah kimiawi dan psikologi di balik selembar prangko membuat kita sadar akan satu hal yang sangat manusiawi. Kita semua, pada dasarnya, terus mencari cara untuk "menempelkan" diri kita pada sesuatu, mencari makna dalam hal-hal yang kecil, dan berusaha keras menyusun serpihan dunia yang berantakan ini agar terasa sedikit lebih masuk akal.